SITUS MANURUNGE RI MATAJANG

ManurungngE, berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian“. Dalam aturan bahasa Bugis, khususnya Bugis-Bone, akhiran “E” dipakai untuk menunjuk kata kepunyaan, akhiran ‘nya’ dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhiran “E” pada kata Manurung yang diikutinya akan menunjukkan arti dialah orang yang turun dari ketinggian.

Adapun awal datangnya seorang Mangkau’ (raja) di Bone yang dikenal dengan nama ManurungE ri Matajang Mata SilompoE, ditandai dengan gejala alam yang menakutkan dan mengerikan. Terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat, kilat dan guntur sambar menyambar, hujan dan angin puting beliung yang sangat keras. Setelah keadaan reda dan sangat tak terduga, tiba-tiba di tengah lapangan yang luas terlihat ada orang berdiri dengan pakaian serba putih. Karena tidak diketahui dari mana asal usulnya, maka orang menyangkanya To Manurung yaitu manusia yang turun dari langit.

Kepercayaan Bugis-Makassar sebelum mengenal Islam, Manurung-E atau To Manurung dianggap sebagai perwujudan Tuhan atau Dewa (Bugis-Bone: Dewata seuwwaE); manusia yang turun dari langit, namun bukan sebagai manusia pertama (Adam). ManurungE merupakan manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan manusia lainnya; Cerdas, pandai dan mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan orang/masyarakat sekitarnya. Yang kemudian diminta untuk menjadi raja/mangkau’.

Situs ManurungE (To Manurung yang dikenal ManurungE ri Matajang atau Mata SilompoE) merupakan tempat terjadinya kontrak pemerintah Rakyat Bone (Tujuh raja-raja kecil) dengan ManurungE ri Matajang Raja Bone Pertama pada tanggal 6 April 1330 dan menjadi hari lahirnya Kabupaten Bone. ManurungE adalah pemersatu rakyat yang bertikai saat itu (matoa-mata) ke dalam Kerajaan Bone.

Tujuh raja-raja kecil melantik Manurunge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah Ade PituE. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata SilompoE. Adapun ade’ pituE terdiri dari matoa Ta, Matoa Tibojong, Matoa Tanete Riattang, Matoa Tanete Riawang, Matoa Macege, Matoa Ponceng. Istilah Matoa kemudian menjadi Arung.

Lokasi Situs ManurungE ri Matajang terletak di Jalan ManurungE, Kelurahan ManurungE, Kecamatan Tanete Riattang. Secara astronomi terletak pada titik koordinat 120˚19’52,2’’ BT, 04˚32’33,8’’ LS. Sebelah Utara situs tersebut berbatasan dengan Pekuburan Umum Manurunge (Pemakaman rumpun keluarga), sebelah Selatan dan berbatasan dengan pemukiman penduduk, sebelah Timur berbatasan dengan rumah penduduk dan sawah, dan sebelah Barat berbatasan dengan Mesjid Nurul Rahman. Tanah tempat berdirinya Situs merupakan tanah milik pemerintah.

Petugas Pendata : Aguslia Adhari, S.Si.