GOA UHALLIE

Goa Uhallie atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Gua Wali” pertama kali ditemukan pada tahun 2009 oleh Awaluddin salah seorang penduduk desa Langi Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone. Beliau kemudian melaporkan penemuannya ke Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin dan juga ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar. Tindak lanjut atas laporan tersebut baru dimulai pada tahun 2013 dengan dilakukannya survei oleh tim BPCB Makassar.

Di dalam Goa Uhallie di temukan fosil manusia purba dan lukisan pada goa yang merupakan peninggalan zaman mesolitik, yaitu masa manusia sudah mengenal hidup menetap di gua-gua.  Menurut cerita rakyat penduduk desa Langi khususnya dari mereka yang dituakan, bahwa di goa ini pernah tinggal suku manusia kerdil (suku oni).  Cerita mengenai keberadaan orang- orang kerdil yang hidup di Gua Uhallie di tengah hutan desa Langi ini masih simpang siur. Sebagian warga yang bermukim di daerah tersebut menjuluki mereka sebagai makhluk setengah siluman karena sulit dijumpai dan bisa tiba-tiba menghilang dalam kerimbunan hutan. Namun ada juga yang menganggapnya sebagai mahluk biasa yang sama dengan manusia pada umumnya, hanya secara fisik lebih kecil.

Goa Uhallie dahulu merupakan tempat persembunyian masyarakat  setempat dari pemberontak DI/TII yang bergejolak di Sulawesi Selatan. Masyarakat mengungsi untuk mencari tempat aman, bahkan hingga keperbukitan dan goa.

Secara administratif Goa Uhallie masuk dalam wilayah Dusun KalukkuE, Desa Langi, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Dusun Kalukkue berada pada posisi astronomis 05°01’2,38” lintang selatan dan 199°58’7,42” bujur timur pada ketinggian sekitar 621 meter di atas permukaan laut. Goa Uhallie berada di daerah perbukitan karst dan terletak di tengah hutan sebelah timur Desa Langi. Dari Desa Langi dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam perjalanan untuk menuju gua, perjalanan diawali dengan menyeberangi sungai. Aliran sungai ini cukup deras dan tidak memiliki jembatan penyeberangan. Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri ladang-ladang persawahan dan dilanjutkan dengan menanjak bukit yang cukup terjal.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri hutan dengan pepohonan yang sangat rindang dan lebar. Jalur yang dilalui cukup menanjak untuk sampai ke mulut gua. Di sekitar mulut gua ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, tinggi, dan lebat. Keadaan di sekeliling gua ini banyak ditumbuhi pepohonan besar seperti keppa, hanyo, beringin, ganjang-ganjang, bitti, dan terdapat pula tumbuhan – tumbuhan yang merambat.

Leang Uhallie merupakan sebuah lubang pada tebing karst yang terdiri dari dua buah ruang. Kedua ruangan saling terhubung satu sama lain, baik pada ruang 1 atau pun ruang 2 sama-sama memiliki mulut gua yang menjadi pintu masuk dan keluar ruangan. Secara keseluruhan terdapat tiga mulut gua pada Leang Uhallie, yaitu dua pada ruang 1 dan satu pada ruang 2. Pada gua tersebut yang menjadi pintu masuk utama adalah mulut gua yang paling besar yang terdapat di ruangan satu dan di tengah-tengah mulut gua yang lain, tentunya mulut gua yang dijadikan sebagai pintu utama ini belum tentu merupakan pintu utama yang dipakai oleh manusia prasejarah di masa lalu. Berhubung mulut gua yang menjadi. pintu masuk pada gua ini cukup tinggi (sekitar 3 meter), untuk mencapainya digunakan tangga-tangga yang dibuat dari bambu.

Mulut Goa Uhallie’

Bentuk dari kedua ruangan gua di Goa Uhallie ini sangat berbeda, ruang 1 memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan ruang 2 yang cukup lebar. Pada ruang 1 cahaya yang masuk sangat banyak karena mulut gua pada ruangan ini berjumlah dua dan salah satunya berukuran besar yang merupakan pintu utama dari Goa Uhallie, sehingga seluruh ruangan ini terkena pancaran sinar dengan jumlah besar. Sementara itu, pada ruang 2 mulut guanya memiliki ukuran yang kecil sementara ruangan tersebut cukup besar sehingga hanya sedikit sekali sinar yang masuk. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar ruang 2 ini memiliki pencahayaan yang kurang atau remang-remang.

Gua ini memiliki arah hadap ke arah barat yang berbatasan dengan jurang, sehingga untuk mencapai gua ini harus sedikit memanjat ke atas tebing. Pada saat memasuki mulut gua yang merupakan pintu masuk utama, ruangan yang dimasuki adalah Ruang 1. Ruang gua ini memiliki   bentuk   setengah   lingkaran dan memiliki ketinggian yang bervariasi dari lantai gua sampai dengan langit-langit gua. Lantai gua pada ruangan ini cukup bergelombang, lantai di sisi selatan dekat pintu masuk lebih rendah sementara lantai gua di sisi utara lebih tinggi. Apabila berjalan mengitari ruangan ini, maka akan terlihat gambar cadas yang digambarkan di dinding dan langit-langit gua. Di sisi kanan ruang 1 terdapat lubang gua yang menghubungkan ke ruang 2, yang umumnya terletak di sisi selatan ruang 1.

Pada saat memasuki ruang 2 akan langsung terlihat tiang-tiang dan bongkahan batu yang tersebar pada ruangan sehingga membentuk sekat-sekat pada sekitar gua. Ruang 2 memiliki pintu masuk yang terdapat pada dinding barat ruangan, pada ruangan ini hanya ditemui kumpulan gambar cadas yang digambarkan pada langit-langit ruangan.

Goa Uhallie memiliki gambar berupa motif tangan yang berjumlah 139 buah dan tujuh motif hewan yang tersebar pada dinding dan langit-langit gua. Dinding barat ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 200 cm dan memiliki enam motif tangan dan satu motif hewan, kemudian di dinding utara ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 100 cm dan memiliki gambar cadas berupa 32 motif tangan dan dua motif hewan, dan di dinding utara Ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 90 cm dan memiliki gambar cadas berupa motif tangan sebanyak 20 motif dan motif hewan sebanyak dua motif. dinding timur Ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 110 memiliki gambar cadas berupa motif tangan sebanyak 38 motif dan satu motif hewan, kemudian dinding timur ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 115 cm dan memiliki gambar cadas berupa motif tangan sebanyak 20 motif tangan dan satu motif hewan, di dinding selatan Ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 342 cm yang memiliki gambar cadas sebanyak satu motif tangan, di langit-langit utara ruang 1 dengan ketinggian rata-rata 200 cm yang memiliki gambar cadas sebanyak tiga motif tangan, dan yang terakhir adalah terletak di langit-langit tengah ruang 2 yang mempunyai ketinggian rata-rata 450 cm dari permukaan tanah dan memiliki 18 motif tangan. Batas langsung Goa Uhallie di sebelah barat hutan micho, Bulu Mappakae di sebelah selatan, Hutan kompang di bagian timur dan di bagian barat adalah hutan tulakke.

‘Penghubung Ruang 1 ke Ruang 2’

Kesamaan bentuk pada penggambaran motif telapak tangan dan hewan ini menunjukkan adanya kebudayaan yang sama, selain itu juga wilayah antara Goa Uhallie yang terdapat di Bone dan yang terletak di Maros dapat dikatakan tidak terlalu jauh dan masih berada di dalam bentang alam yang sama. Berdasarkan itu, maka dapat dikatakan bahwa pembuatan gambar cadas di Goa Uhallie memiliki masa yang sama dengan gua-gua yang terdapat di maros

Gambar cadas yang terdapat di Leang Uhallie diperkirakan dibuat pada kisaran 35.000 sampai 40.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pada kurun waktu tersebut tradisi membuat gambar cadas berupa motif tangan dan motif hewan cukup ramai dan berkembang pada manusia prasejarah yang hidup di masa lalu, terutama pada wilayah Sulawesi Selatan yang antara lain adalah Kabupaten Maros, Pangkep, serta Bone.

Petugas Pendata : Irsafril Try Satria, Muh. syaiful Syam