KOMPLEKS MAKAM KUNO RAJA-RAJA LAMURU

Lamuru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bone yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Soppeng di Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya kurang lebih 130 km dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Lamuru pernah menjadi salah satu keDatuan berjaya pada zamannya. Kepastian Lamuru terbentuk dalam satu kesatuan hukum belum bisa ditentukan karena belum ditemukannya data otentik  yang menjelaskan kapan berdirinya KeDatuan Lamuru. Namun sebagai suatu pemukiman, Lamuru terbilang sudah cukup tua. Hal ini diperkuat oleh adanya artefak-artefak prasejarah sejenis marospoint dan fleks-fleks yang diperkirakan telah berusia kurang lebih 2.000 tahun sebelum masehi dan sekarang masih dijaga kelestariannya.

Lamuru sebagai suatu KeDatuan, dipimpin oleh Datu. Adapun Datu yang pernah bertahta di Lamuru, antara lain :

  1. Petta PituE Matanna ManurungE Ri Soloreng
  2. Datue Ri LauE
  3. We Tenri Billi
  4. We Baji Daeng Simpare
  5. La Cella MatinroE Ri Tengngana Soppeng
  6. Janggo Pute
  7. La Mappasunra
  8. La Mappaware
  9. Laruppang Mogga Matinroe Ri Muttiara
  10. Colli PujiE
  11. Jaya Langkana
  12. We Pura Daeng Marannu
  13. We Tenri Baji

Sebagian besar Datu yang pernah bertahta di Lamuru sebagaimana tersebut di atas, dimakamkan di Kompleks pemakaman Kuno Datu-Datu Lamuru, kecuali Petta pituE Matanna ManurungE Ri Soloreng yang diyakini oleh masyarakat sebagai titisan Dewa, menghilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Makam pada kompleks Makam Kuno Datu-Datu Lamuru seluruhnya berjumlah 117 makam, 116  makam merupakan makam Datu Lamuru beserta kerabat-kerabatnya dan juga beberapa diantaranya berasal dari kedatuan tetangga. Dan satu makam lainnya merupakan makam dari Sullewatang Lamuru yang di masa hidupnya merupakan pemimpin Lamuru dalam era Distrik atau transisi kedatuan menjadi kecamatan.

Seluruh makam pada kompleks makam ini terbuat dari batu sedimen yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar yang kini diopinikan bahwa batu sejenis tersebut sudah tidak ditemukan lagi di kepulauan tersebut.

Makam ini terbagi menjadi 3 ukuran yang berbeda antara lain :

  • Makam Besar berjumlah 10 (sepuluh) berbentuk candi dengan pahatan & artefak kuno dalam bahasa bugis disebut kalokko’ atau terbungkus atau berkubah dalam artian kuburan asli ditutupi oleh batu yang di pahat atau dibentuk sedemikian rupa maupun bangunan. Dengan ukuran :

Panjang Makam            : 395 cm

Lebar Makam                : 250 cm

Tinggi Makam               : 195 cm

Tinggi Nisan                  : 100 cm

  • Makam Sedang berjumlah 28 (dua puluh delapan). Makam ini hampir sama dengan makam-makam pada umumnya namun yang membedakan adalah bentuk dan pahatan-pahatan serta susunan batu dalam pembuatan makam tersebut. Ukuran makam tersebut antara lain :

Panjang Makam               : 270 cm

Lebar Makam                   : 180 cm

Tinggi Makam                  : 80 cm

Tinggi Nisan                     : 120 cm

  • Makam Kecil berjumlah 78 (tujuh puluh delapan), menurut pengelola, makam kecil ini juga pernah akan di beri kubah atau kalokko pada masa kerajaan. Namun hal ini urung dilakukan dan terkesan terbengkalai karena wafatnya Datu yang memimpin saat itu, termasuk berubahnya sistem kedatuan ke sistem pemerintahan Republik juga merupakan penyebab tidak terlaksananya maksud tersebut.

Dimensi makam kecil sebagai berikut :

  • Panjang Makam : 145 cm
  • Lebar Makam : 77 cm
  • Tinggi Makam : 40 cm
  • Tinggi Nisan : 80 cm

Petugas Pendata : Muhammad Yunus, Fajar Ardiansyah N, Burhanuddin Halik AT.