TELLUMPOCCOE

1.SEJARAH

Perjanjian Tellumpoccoe adalah perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan bugis yaitu Bone,Soppeng dan Wajo.perjanjian ini bermula atas keinginan mempersaudarakan ketiga kerajaan tersebut demi menentang agresi dari kerajaan Gowa yang merupakan penguasa adidaya pada masa itu,Sebelum perjanjian ini bermula pada masa La Tenri Rawe BongkangE yang naik takhta sebagai raja Bone yang ke VII menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E, Raja Bone ke VI telah terjadi beberapa kali serangan dari kerajaan Gowa yang pada mulanya disebabkan karna penggabungan Tellulimpoe (tiga wilayah) memasukkan Bone sebagai anggota yakni Luwu,Gowa dan Bone.

Ketika terjadi pertempuran, Wajo sebagai sekutu Gowa ikut serta dalam pertempuran melawan Bone, setelah tiga hari lamanya pertempuran itu berlangsung, pasukan Bone terdesak, namun semangat pasukan Bone bangkit mengadakan penyerangan dan akhirnya pasukan kerajaan Gowa dan Wajo terpukul mundur,Setelah itu  Kajaolalidong mewakili Bone dan Karaeng Tallo mewakili Gowa mengadakan pertemuan yang menghasilkan perjanjian”Ceppa ri Caleppa” berisi tentang batas wilayah kedua kerajaan di selatan (Sungai Tangka). Raja Gowa Karaeng Bonto Langkasa memrintah kepada Arung matoa Wajo sebagai abdi Gowa untuk mengangkut kayu dari pengunungan Barru ke pinggir laut untuk di pergunakan untuk mendirikan istana di Tamalate sebagai ibu kota kerajaan Gowa.Namun arung matoa Wajo merasa tidak senang karena di perlakukan sewenang wenang maka hal tersebut di sampaikan kepada Raja Bone.setelah mengetahui hal tersebut Raja Bone merasa tidak senang dan ia pun mengajak Arung Matoa dan Datu Soppeng untuk bersama sama ke Barru sesampainya di sana Raja Gowa heran karena ia panggil hanya Raja Wajo akan tetapi Raja Bone dan Raja Soppeng juga ikut tetapi, Raja Bone menjawab bahwa “Orang Wajo takut melewati daerah yang tidak di diami manusia, kemudia raja bone, Soppeng dan Wajo sama sama memotong tali pengikat kayu kayu yang intinya sesama kerajaan yang terintimidasi menginginkan adanya perlawanan dengan menyatuhkan kekuatan.

Setalah kejadian itu mereka bermusyawarah menyerang Cenrana tujuh hari akan dating,Pada hari yang ditentukan mereka pun menyerang Cenrana yang mana merupakan wilayah kekuasaan Gowa pada Waktu itu. Kemudian mereka sepakat kembali ke Timurung tepatnya dusun Bunne desa Allamungeng Patue untuk mempererat persaudaraan mereka dalam menghadapi serangan serangan dari kerajaan Gowa, di Timurung mereka bertemu kembali dan mengadakan perjanjian persaudaraan yang di hadiri oleh dari tiga kerajaan anatara lain :

  1. Bone, yaitu: La Tenrirawe BongkangE, KajaoLaliddong dan pembesar-pembesar kerajaan Bone lainnya.
  2. Soppeng: La Mappaleppe Pong lipue, Datu Soppeng, Arung Bila, Arung Pangepae, dan Arung Paddanrengge dan pembesar pembesar kerjaan Soppeng Lainnya.
  3. Wajo yaitu La Mungkace Touddamang ArungMatowa, Pillae, Cakkuridie,Pattolae, dan pembesar pembesar kerajaan Wajo lainnya.

Ke tiganya mengucapkan ikrar yang berbunyi :

  1. Malilusipakainge, RebbaSipatokkong, Siappidapireng riperinyameng (memperingati bagi mereka yang tidak menaati kesepakatan,saling mengingatkan jika ada yang tersungkur dan saling membantu dalam suka duka .
  2. Tessibaicukkeng, tessiccinnaianyyang ulaweng matasa, pattola malampe, waramparang maega pada malebbang risaliweng temmalebbang rilaleng (tidak akan saling mengecilkan peran, tidak akan saling mengingikan perebuatan takhta dan pengantian putra mahkota dan tidak saling mencampuri urusan dalam negeri).
  3. Teppettu-pettu siranreng sama sama pi mappettu, tennawa nawatomate janccitta, tennalariang angin risaliweng bitara, natajeng tencajie, iya teya ripakainge, iya riduai, maumaruttung langie, mawoto paratiwie, temmalukka akkulu adangetta, natettongi dewata sewwae. (tidak akan putus satu satu melainkan semua harus putus, perjanjian ini tidak akan batal karena kita mati dan tidak akan lenyap karena dihanyutkan angin keluar lagi mustahi lterjadi. Siapa yang tdaik mau diperingati dialah yang harus diserang kita berdua walaupun langit runtuh dan bumi terbang perjanjian ini tidak akan batal dan disaksikan oleh Tuhan yang maha Esa
  4. Sirekkokeng tedong mawatang, sirettowang panni sipoloang poppa, silasekeng tedong siteppekeng tanru tedong (saling menundukkan kerbau yang kuat saling mematahkan paha saling mengebirikan kerbau artinya mereka akan saling memberikan bantuan meliter untuk menundukan musuh yang kuat.
  5. Tessiottong warang parang, tesipallattuana’ parakeana (tidak akan saling berebutan harta benda dan berlaku bagi penerus).

Itulah isi perjanjian tellumpoccoe yang terkandung dalam perjanjian yang di prakarsai oleh La Tenri Rawe BongkangE, La Mappaleppe (soppeng) dan To Uddamang (Wajo).Pertemuan tiga kerajaan yang dikenal dengan (perjanjian Tellumpoccoe) yang diadakan disuatu kampung kecil bernama bunne kecamatan Ajangale.

Dalam pertemuan tersebut mereka mallamung patu atau (menenggelamkan batu sebagai tanda sahnya perjanjian dan sejak itulah istilah “mallamungeng patue ri Timurung dikenal dengan persekutuan tiga kerajaan besar tellumpoccoe atau yang lebih dikenal sekarang dengan nama BOSOWA.

  1. DESKRIPSI

Tellumpoccoe merupakan perjanjian yang melibatkan tiga kerajaan yaitu kerajaan Bone, kerajaan Soppeng, kerajaan Wajo pada tahun 1582 yang bertempat di Dusun Bunne Desa Allamungeng patue Kecamatan Ajangale yang berjarak kurang lebih 45 km dari kota Watampone, perjanjian ini di lakukan dengan menanam tiga buah batu sebagai simbol persaudaraan antara tiga yaitu kerajaan Bone La Tenri Rawe BongkangE, kerajaan Soppeng La Mappaleppe Pong Lipue, kerajaan Wajo La Mungkace To Uddamang di mana pada saat itu kerajaan Bone menanam Batu Besar menandakan bahwa Bone sebagai saudara Tua,kemudian Raja Wajo menanam Batu Agak Kecil sebagai Saudara tengah dan Yang Kecil di tanam oleh raja Soppeng menandakan saudara muda.

KEBERADAAN:

Alamat                                      : Dusun Bunne Desa Allamungeng Patue

Provinsi                                     : Sulawesi Selatan

Kabupaten                                : Bone

Kecamatan                                : Ajangale

Desa                                          : Dusun Bunne Desa Allamungeng Patue

Kode Pos                                   : 92755

Kondisi saat ini                         : Terawat danTidakUtuh

Bahan                                       : Jenis  Batu  Asli

Ketinggian                                 :

UKURAN                               :

Ukuran Lokasi

Luas Lahan                               : 0,25 Hektar atau 25 Are

Panjang Bangunan                   : 6 Meter

Lebar Bangunan                       : 2,5 Meter

Luas Bangunan                        : 15 Meter persegi

Ukuran Naskah Perjanjian

Pangjang                                   : 60 cm

Lebar                                         : 40 cm

BATAS- BATAS

Dari Barat berbatasan dengan Jalan Tani

Dari Timur berbatasan dengan Lahan Perkuburan Umum

Dari Utara berbatasan dengan Lahan Perkebunan Masyarakat

Dari Selatan berbatasan dengan Lahan Perkebunan Masyarakat.

KEPEMILIKAN

Pemilik                                      : Kepemilikan Negara

Riwayat Kepemilikkan              : Kepemilikan Negara

PENGELOLAH                      : Masyarakat Setempat

Periode/ Masa                          : Prasejarah

 

Petugas Pendata : A. Muh. Yunus, Andi Asman Syamsuddin, S.Pd.