MESJID TUA LAMURU

Islam masuk ke sulawesi Selatan yaitu pada abad ke XVII Masehi, Agama islam sudah mulai mencoba memasuki daerah sulawesi selatan jauh sebelumnya.

Pada Tahun 1580 Sultan Ternate Baabullah yang datang di Gowa menemui Raja Gowa I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bonto Langkasa, Seperti diketahui bahwa Sultan Ternate Baabullah adalah seorang Islam. Bahkan dari perjalanannya dari Ternate ke Sulawesi Selatan Baabullah tidak lupa mempergunakan kesempatan untuk menyebarkan Agama Islam.

Dalam Pertemuannya dengan Raja Gowa, maka diadakanlah perjanjian persahabatan antara Gowa dan Ternate, sebagai tanda persahabatan, makasultan ternate menyerahkan Pulau Selayar kepada Raja Gowa. Dengan Dwi Tunggal Sultan Alauddin dan Sultan Awalulul Islam, Agama Islam mulai melebarkan sayapnya ke Daerah-daerah  Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia bahagian Timur pada umumnya.

Usaha penyebaran Agama Islam oleh Goa Talllo di tempuh dengan jalan damai, perluasan Islam yang tidak secara damai hanya ketika menghadapi Daerah Tellu Boccoe, sebab hakekat pembentukan Tellu Boccoe adalah untuk membendung hegemoni politik dari kerajaan Gowa. Pertama Gowa mengusahakan agar Raja Bone yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Bone ke X WeTenri Tappu, tetapi tidak berhasil, oleh karena itu perhatian Gowa ditujukan ke Daerah Lain.

Sesudah Suppa dan Sawitto di Islamkan, Gowa meneruskan usahanya untuk memasuki Daerah Tellu Boccoe,maka timbullah perang antara Gowa dan Tellu Boccoe di Ajatappareng dimana Gowa mengalami kekalahan dan mundur kembali ke Gowa. Pada`tahun 1608 Gowa datang lagi dengan tekad untuk mengislamkan Daerah Tellu Bocoe.

Timbullah peperangan yang hebat antara Gowa dengan Tellu Boccoedi Pare-pare. Dalam perang kali ini Tellu Boccoe mengalami kekalahan, maka terbukalah pintu bagi pengaruh islam untuk memasuki Daerah Tellu Boccoe. Berturut-turutlah Kerajaan-kerajaan Tellu Boccoe menerima seruan Kerajaan Gowa untuk memeluk Islam, Daerah tellu Boccoe yang pertama kali menerima seruan Kerajaan Gowa untuk Memeluk Islam yaitu Kerajaan Soppeng di bawah Pemerintahan Datu BeoE yang menyatakan diri serta rakyatnya memeluk Agama Islam pada tahun 1609. Berikutnya ialah Kerajaan Wajo pada masa pemerintahan Arung Matoa La Sangkuru yang memeluk Islam pada tanggal 10 Mei 1610. Sisah anggota tertua dari perserikatan Tellu Boccoe yaitu Bone belum mau memeluk Agama Islam.

Ketika utusan Raja Gowa Sultan Alauddin menemui Raja Bone ke XI La Tenrirawe Bongkange untuk mengajak beliau memeluk Agama Islam, maka RajaBone menemuiya. Tetapi ternyata kesediaan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange untuk memeluk Agama Islam agar dianut oleh rakyat Bone ternyata tidak disetujui oleh anggota Hadat Pitu, bahkan bukan hanya ditentang, tetapi Raja Bone sendiri La Tenrirawe Bongkange oleh Hadat Pitu dimaksulkan dan diganti.

Karena itu timbullah perang antara Gowa dan Bone dimana Bone dapat dikalahkan pada Tanggal 23 Nopember 1611, dengan kekalahan ini maka Bone menerima Agama Islam.

Dengan Islamnya Soppeng, Wajo, dan Bone sebagai Daerah yang mengapit Daerah Lamuru, demikianlah pula Lamuru yang diperlindungi oleh Soppeng. Setelah perjanjian Tellu Boccoe, maka telah dapat diduga masuknya Agama Islam di Lamuru.

Kemudian bila diperhatikan bentuk-bentuk makam tua di Lamuru, mana terletak arah utara selatan sebagaimana lazimnya makam Islam, demikian pula tipe-tipe makamnya, serata memperhatikan tahun-tahun meninggalnya, maka jelas bahwa bentuk makam seperti sebahagian bentuk makam dalam kompleks makam raja-raja Watang Lamuru adalah termasuk dalam abad ke XVII.

MASJID TUA LAMURU

Pada Zaman masuknya Agama Islam di Lamuru terdapat Langgara di Tompo Soloreng Dusun Baringeng Desa Mattampa Bulu, Langgara ini Terbuat dari tumpukan gelondongan potongan pohon yang diikat  menggunakan ijuk yang dijadikan dinding, atap terbuat dari Lemme atau dalam bahasa Indonesianya di sebut Ijuk.

Langgara dibuat selain dari pada tempat beribadah juga digunakan para Syek bermusyawarah dalam mengajarkan Agama Islam, setelah Langgara sudah tidak mampu menampung masyarakat yang memeluk Agama Islam untuk beribadah maka di buatlah sebuah bangunan Mushallah yang mempunyai tiang dan hanya beratapkan Ijuk tanpa mempunyai dinding.

Mushallah pertama kali di bangun pada masa Pemerintahan Datu Lamuru ke V La Cella Matinroe ri Tengana Soppeng yang mana Datu Lamuru pertama memeluk Agama Islam beserta dengan pengikutnya, seiring berjalannya waktu di bangunlah Masjid yang bertempatkan sebelah barat Kompleks Makam Raja-raja Lamuru.

Sepertihalnya  bangunan-bangunan Masjid Tua yang ada di Indonesia Masjid Tua Lamuru ini hanya beratapkan Ijuk atau masyarakat sekitar mengatakan Gemme, terdapat beberapa  tiang yang menopang bangunan Masjid tersebut dan tidak mempunyai  dinding, setelah tahun 1990 barulah Masjid Tua Lamuru di Renovasi/pugar sehingga menjadi bangunan modern pada masanya.

 

Masjid ini terletak di Kelurahan Lalebata tidak jauh dari Komplek Makam Kuno Raja-raja Lamuru, Masjid ini hampir sama dengan Masjid kuno lainnya yang ada di Daerah Jawa. Namun kondisi Masjid tersebut tidak utuh sepenuhnya dan tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah maka Masjid ini di Lestarikan sebagai Cagar Budaya di Daerah tersebut. Masjid ini pernah di Pugar kisaran tahun 90an Sehingga Masjid ini melenceng dari beberapa bahan aslinya. Jika ke Masjid ini maka akan ditemukan delapan jendela dan tiga pintu masing-masing mengarah Utara, Timur, Selatan. Jendela, pintu serta dinding  Masjid ini terbuat dari kayu Ulin yang dibuat sesuai bentuk aslinya. Menurut pengelola dan Masyarakat setempat sebelum pemugaran Masjid ini tidak memiliki dinding, dan menggunakan tali ijuk sebagai penyambung antara tiang satu dengan tiang yang lain.

Petugas Pendata : Muh. Yunus, Burhanuddin Halik, Fajar Ardiansyah N